Status quo Greenwich Mean Time (GMT)sebagai kiblat waktu dunia, ditantang. Konferensi Meridian yang diikuti 41 delegasi dari 25 negara pada 1884 itu, telah mentasbihkan Greenwich sebagai stadar waktu dunia. Adalah Pemerintah Arab Saudi yang berkeinginan menggusur GMT itu dengan Abraj Al-Bait Tower yang bertengger di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah. Menjadikannya sebagai Makkah Mean Time (MMT).
Oleh Lufti Avianto
Tercatat, ini memang bukan kali pertama ada negara yang ingin menggusur GMT. Pendahulunya, ada Amerika Serikat, Perancis dan sejumlah negara lain yang dilalui garis meridian telah membuat klaim sendiri sebagai nol derajat pada abad ke-19 silam. Kini, meski masih dalam tahap uji coba sejak 1 Ramadhan lalu, Abraj Al-Bait, jam menara yang besarnya lima kali Big Ben itu, menyentak dunia dengan diusulkannya sebagai pusat perhitungan waktu dunia.
Bagi umat Islam, Jam Menara Makkah merupakan hadiah Ramadhan yang membanggakan. Menjelang Ramadhan lalu, media massa nasional gencar memberitakan rencana ini. Para pemimpin organisasi massa (Ormas) Islam di Tanah Air, menyambut baik begitu kabar ini tersiar.
Seperti halnya Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsudin yang begitu antusias. “Tentu secara subyektif saya sangat setuju terutama akan menguntungkan dan memudahkan umat Islam di berbagai negara,” kata Din.
Kegembiraan serupa juga tampak dari Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Syuhada Bahri. Ia menilai upaya Makkah sebagai kiblat waktu dunia, harus disambut baik. “Yang pasti bagi umat islam sangat menyenangkan kalau Makkah dijadiakan pusat perhitungan waktu di dunia.”
Memang, ide ini harus disambut umat Islam secara kolektif di seluruh dunia. Ini bisa menjadi upaya syiar Islam yang baik kepada masyarakat dunia. Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, Rohadi mengungkapkan ini. “Jadi memang oke ide dasarnya untuk syiar dan mengubah image dunia Islam,” katanya.
Namun, urusan mengganti GMT dengan MMT bukan pekerjaan mudah. Tak sesederhana membalikkan arah jarum jam, atau mengeset ulang jam pada sistem waktu dunia. Rohadi menyadari, perlu upaya khusus agar MMT bisa diterima dunia.
Kekhawatiran senada juga diutarakan Din. Selain soal dilpomasi dan kesepakatan dunia internasional, ada pula hambatan yang akan menjegal rencana ini. Din mengatakan, rencana ini memerlukan perjuangan panjang dan berat. “Saat ini dan ada sentimen Islamophobia di barat, tentu akan ada resistensi masyarakat di barat juga masyarakat di luar dunia islam,” kata Din.
Bahri juga mengisyaratkan hambatan ini. sebab, menurutnya pihak Barat takkan mudah menerima MMT begitu saja. “Persoalannya, apakah pihak lain, akan mudah legowo?” kata Bahri. Padahal, saat penggunaan GMT, kata dia, umat Islam bisa menerima. Sementara bila ada hasil penelitan yang shahih tentang Makkah sebagai titik yang tepat untuk menjadi kiblat waktu dunia, akan menemui hambatan.
Untuk mewujudkan apresiasi menjadi dukungan secara nyata, Bahri menilai perlu menunggu hasil ujicoba yang saat ini sedang berlangsung. Lalu melakukan kajian secara ilmiah dan syariah dengan melibatkan pakar di bidangnya masing-masing. “Sebab kita khawatir, dalam masa ujicoba ini ternyata memang tidak pas. Jadi kita dorong-dorong sesuatu yang tidak pas. Jadi kita tunggu dulu setelah masa ujicoba ini. kalau nanti pas menurut perhitungan siapa pun barulah kita memberikan dukungan.”
Meski begitu, Bahri menilai bahwa paling tidak Jam Menara Makkah bisa menjadi acuan 1,5 miliar umat Islam di penjuru dunia. “Kalau orang lain tidak mau menerima, paling tidak itu menjadi standar kita umat Islam.”
Rohadi menilai, untuk memuluskan rencana itu, diperlukannya perundingan dan diskusi antara pemimpin dunia Islam dengan pemimpin Barat untuk menyamakan persepsi. “Karena mengubah itu bukan pekerjaan mudah, saya kira negara-negara Barat itu juga belum ikhlas. Jadi pemimpin dunia Islam harus berunding dulu.”
Karena perubahan ini membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia di planet ini, Rohadi sepakat dengan Bahri agar umat Islam Indonesia melakukan kajian secara komprehensif. Rohadi mengaku telah melakukan pembicaraan di tingkat Kemeterian Agama dengan beberapa pihak internal yang terkait.
Konkretnya, kata dia, wacana ini akan dibahas pada pertemuan rutin bulanan dengan Menteri Agama, Suryadarma Ali pada akhir September. Harapannya, setelah rapat itu akan dibahas pada tingkat pertemuan Menteri Agama se-Asia Tenggara (MABIMS) pada pertemuan medio Oktober nanti di Brunei Darussalam. “Karena MABIMS merespon isu-isu Islam internasional,” kata dia yang mengaku akan turut serta dalam pertemuan internasional itu.
Dukungan Masyarakat
Beberapa Ormas Islam sudah menunjukkan sikap dukungannya terhadap MMT. Elemen masyarakat pun tak mau ketinggalan dengan memberikan dukungannya melalui situs jejaring sosial, facebook. Setelah Jam Menara Makkah ramai dibicarakan menjelang Ramadhan lalu, Benny Samsuri lantas sigap mendukung dengan membuat grup di fesbuk. “Ini sebagai perwujudan solidaritas persatuan umat dan titik tolak kebangkitan Islam,” kata Benny yang berlokasi di Wirobrajan, Yogyakarta ini.
Tak hanya itu, salah seorang warga lainnya, Hary Herlambang juga berharap, dari wacana ini sebaiknya menguatkan dominasi khazanah keilmuan Islam. “Paling tidak ada sebuah pengalihan citra Islam agar banyak yang tahu bahwa ilmu pengetahuan Islam itu luas. Karena itu sisi keilmiahan Jam Makkah harus kuat bila mau menggeser Greenwich,” kata apoteker di RS. Harapan Kita ini.
Secara pribadi, Benny yang menggalang dukungan dari fesbuk tak mematok target jumlah pendukung grup yang ia buat sehari menjelang Bulan ramadhan itu. Namun, ia mengaku terus mengupayakan agar wacana ini menjadi berita hangat yang diperbincangkan dan diangkat ke permukaan. “Kalau tidak, ya tidak akan jadi isu internasional,” kata lelaki asal Minang ini.
Benny tak sendirian. Ada Elfizon Anwar yang juga membuat grup fesbuk lainnya untuk mendukung MMT. Pembuat grup yang beralamat di Tangerang ini berharap ambisi Makkah menggusur Greenwich bisa menjadi kenyataan. “Dengan adanya perubahan titik nolnya, Insya Allah umat Islam akan memiliki waktunya sendiri dan melengkapi almanak hijriah umat Islam itu sendiri,” kata dia.
Benny dan Elfizon yang sudah memiliki sekitar 286 dan 41 member dalam grupnya, terus berupaya menyebarkan wacana ini guna meraih dukungan dengan satu tujuan: Makah Mean Time menjadi kenyataan.





